Oleh: muttaqinamafaza | Agustus 6, 2008

Kebaikan Tetap Butuh Perbaikan

Maukah kita coba merehatkan badan ini tuk sejenak memikrkan kehendaknya yang jernih namun hamper tak terdengar dan tak teraba dalam singkatnya rentetan perjalanan hidup ini tuk sesaat waktu untuk kalipertama atau berulang kali . Dan Maukah kita coba memetik indahnya dan begitu sederhananya sebuah arti klimaks dari kepayahan maupun kesenangan kita yang datang tak pasti dan silih berganti tanpa silsilah kehadiran yang pasti

Sungguh ini hanyalah sebuah murni ajakan, bukan sebuah paksaan yang menyakiti, walaupun kamu tahu dirimu kini sedang mencari arti akan berusaha terus hingga mat, telinga dan hatimu akui nanti

Bayangkan sejenak, bagaimana membangun pilar-pliar diri selama ini, tentunya teori dan konsepsi atas dirilah yangmenjadi gambaran kacaan sehari-hari, pilar-pilar inilah sebuah medan yang menjelma membentuk kumpulan spesialisasi inti diri manusia masa lalu, masa kini dan masa depan, dalam rangakaian serentetan peradaban maupun kebiadaban yang mewarnai nilai-nilai asasi diri yang tiadakan pernah mampu berhenti tak lain ditangan genggaman sang Raja Hakiki.

Sadari atau tidak, hidup ini adalah gerakan untuk melawan ancaman ketiadaan harga diri akan esensi keberadaannya ditengah-tengah menanti nadi pergumulan zaman keabadian sutau saat nanti, tentulah ketentuannya keras, tanpa basa-basi, dan tanpa dikaji lagi , dibandingkan sikap kita kini yang selalu ingin mencari-cari dan terkadang berubah menjadi bernafsu ingin menguasai dan memiliki dari hari ke hari dengan berbagai kelihaian strategi penuh misi
Dalam suatu hadist riwayat bukhori , rasul SAW telah bersabda “ Inna Khiyaronnasi Ahsanuhum Qodho’ “ , hal yang baik pasti dan hanya akan bisa diamanahkan kepada orang yang baik, dan pastilah dialah termasuk Khoirunnas . Apa saja macam kebaikan itu ? terlebih sudah seyakin inikah kita, bahwa kita adalah orang baik , dalam istilah the truth of subject , yang masuk dalam hitungan rinciNya . Marilah coba kita objek kebaikan disekitar kita masa lalu , masa kini dan masa depan
Lingkupan Kebaikan atas sebuah pendidikan , suami ,istri , anak , sholat , zakat , infaq ,haji ,syahadat , lingkungan ,dakwah, pekerjaan , persahabatan dan cita-cita , membutuhkan perlakuan yang baik pula , dimana pun entitas , dimana kita masing-masing diri mengaktualiosasikan diri dalam ruang-ruang kebaikan itu .
Ternyata Tak semua sanggup , tak semua bersih dan amanah . Kekokohan pilar-pilar diri tak sekuat tindihan tugas dan tanggung jawab yang dipikul ,dan itu bisa menimpa kepada siapa saja , tanpa memandang kedudukan dan wewenang apapun bentuknya.

Perkiraan dan timbangan kita selama ini tak kerap selaras dengan kenyataan selama ini, dulu kita begitu yakin mengenalkan diri ini bahwa kita adalah orang baik didepan ribuan ataupun jutaan pasang mata buta yang terpukau dan terpana hanya karena satu ,dua dan tiga kebaikan yang terjadi selama satu hari saja , padahal kebaikan apapun adalah milikNya , sehingga ganjaran terbaik apapunlah kehendak agungNya, walaupun seberat biji atom kebaikan itu kelak hingga kelipatan yang berlipat ganda. Tentulah beda bobot kebaikanNya dengan kebaikan kita, begitu jauh bandingannya melebihi antara ruang galaksi yang maha luas dan bilik kamar yang berukur sempit ,sehingga sungguh begitu terlalu premature dan tidak sopa, bahwa legitimasi orang baik begitu lekat pada kita khususnya pada saat suasana diri ini terombang-ambing dilautan kebaikan yang memabukan, hanya sebuah pesan nurani tersamapai, berhati-hatilah kita atas sebutan ini, takutlah karena tak dapat disangka dan diduga dibalik sebutan itu ada azab dahsyat yang entah pada berjalannya masa akan hinggap dalam relung ketiadatahuan diri kita.

Hanya sebuah pesan sederhana nabi diatas bahwa lakukan saja kebaikan – kebaikan sebagai tujuan system kebaikan dalam diri kita, kebaikan tidak butuh kita, tetapi kita membutuhkan kebaikan karena buah istimewa dari kebaikan adalah keindahan, kedamaian, ketenangan, kesejukan, ketaatan, kesatuan dan keabadian atas mahligai titian akhir kehidupan .

Maka dari sinilah kita merasa perlu untuk berusaha melejitkan kembali kebaikan-kebaikan disekitar kita maupun yang ada dan sedang kita kerjakan saat ini, sekalipun baru berupa niat atau rumusan agenda dalam hati, yang InsyaAlloh hal itu juga merrupakan awal benih muda kebaikan. (Diksi Taghyir Ishlah)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: